Sabtu, 17 Maret 2012

Sosialisasi dan Interaksi Siswa Disabilitas dalam Penjas



Pendidikan Jasmani merupakan salahsatu cara terbaik dalam upaya peningkatan berbahasa anak cacat,sehingga cara ini perlu untuk dikembangkan dan disosialisasikan.
Pembelajaran Afektif merujuk kepada perubahan-perubahan atau perkembangan reaksi emosional anak terhadap situasi-situasi tertentu. Pembelajaran afektif ini biasanya berlangsung sehubungan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan bidang lainnya dan meningkatkan perilaku siswa yang tepat serta  sejalan dengan perkembangan afektif.
Sosialisasi dan Interaksi
Anak-anak yang cacat sering kurang mampu bersosialisasi dengan orang lain atau kurang mampu menanggapi secara tepat situasi sosial yang berkembang, namun munculnya masalah ini mungkin kurangnya kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk berinteraksi. Oleh karena itu guru penjas harus mampu membuat situasi-situasi sosial dan memberikan kesempatan serta memandu anak-anak yang memerlukan bantuan melalui berbagi pengalaman-pengalaman sosial yang ada dalam pendidikan jasmani.
Anak-anak yang cacat seyogianya selalu belajar berinteraksi secara elegan dan mampu menangani berbagai situasi sosial disekitarnya. Contoh-contoh interaksi sosial yang dapat dilakukan secara elegan adalah sebagai berikut: Memperagakan perilaku koperatif; Tidak menarik diri dari situasi tersebut dan juga tidak menunjukan perilaku yang berlebihan; Melakukan kendali diri dengan meredam rasa marah seseorang atau tindakan yang berlebihan; Menunjukan kemampuan menjadi pemimpin seperti menjadi kapten,anggota tim , memimpin aktivitas pemanasan; Memperagakan kesadaran sosial tentang orang lain seperti memperhatikan keamanan, keberhasilan, kesehatan, kebersihan orang lain; Melarang kegiatan yang melanggar peraturan; Melakukan perubahan-perubahan; Menjadi pemenang dan pecundang yang ikhlas; Menunjukkan perilaku yang baik dalam memberikan dukungan kepada seseorang atau suatu tim.
Para siswa yang cacat seyogianya diberi kesempatan sebanyak mungkin untuk berperan serta dalam satu situasi atau bermitra, berpasangan, membentuk kelompok kecil dan kelompok besar. Apabila dilakukan secara tepat maka pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam persaingan individu atau tim sangat berharga bagi anak-anak cacat. Berikut ini merupakan aktivitas dan pengalaman-pengalaman yang bisa dijadikan kesempatan untuk bersosialisasi: Mengalami kemenangan dan kekalahan; Berperan serta sebagai seorang anggota dari sebuah tim; Berfungsi dalam berbagai peran kepemimpinan; Berperan serta dalam aktivitas-aktivitas tarian; Berperan serta dalam aktivitas khusus dalam melakukan perubahan-perubahan, mematuhi peraturan-peraturan, pertentangan sosial, melaksanakan kendali diri, kesadaran sosial terhadap orang lain; Berperan serta dalam diskusi kelas dengan perilaku sosial yang baik dan tidak baik; Tidak berperan serta dalam penarikan diri, anti sosial atau perilaku agresif.
Pembelajaran Afektif
Kerapkali,perubahan-perubahan yang pertama sekali terjadi dalam perilaku siswa yang cacat justru dalam domain afektif. Meningkatnya kemampuan fisik dan mental anak sering menimbulkan meningkatnya keyakinan/rasa percaya diri,perilaku yang lebih asertif dan meningkatnya rasa harga diri.
Meskipun sasaran primer pendidikan jasmani bagi yang cacat bukanlah untuk meningkatkan perkembangan afektif,namun hal ini sering merupakan dampak pengiring. Masalah yang penting diketahui adalah terjadinya perubahan-perubahan keyakinan siswa,konsep diri dan harga diri,dapat berlangsung secara bersamaan serta dipengaruhi oleh pengalaman dalam pendidikan jasmani.
Keberhasilan dalam aktivitas pendidikan jasmani melahirkan pertumbuhan emosional yang baik seperti,bertambahnya konsep diri,keyakinan dan harga diri serta juga membantu perkembangan domain motorik. Kenyataan menunjukkan bahwa anak cacat pada umumnya lebih sering gagal daripada berhasil. Oleh karena itu para guru harus memiliki catatan tentang seberapa besar keberhasilan yang dicapai anak setiap harinya. Dari catatan ini,tentunya banyak masukan bagi kita untuk dipelajari terutama kegagalan yang dialami para siswa cacat tersebut.
Anak cacat memerlukan perhatian secara terus-menerus sehingga mereka merasa aman untuk melakukan sesuatu yang justru akan memberikan keberhasilan kepada mereka. Anak-anak cacat harus mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi dan mampu menerima tantangan-tantangan tersebut,sebab dalam proses perkembangan inilah pembelajaran berlangsung.
Salahsatu hasil yang menonjol dari program pendidikan jasmani adalah siswa cacat menghendaki peran serta secara aktif dalam aktivitas pendidikan jasmani sebab dalam aktivitas ini mereka mencari dan menemukan tantangan-tantangan serta merasa yakin bahwa dirinya mampu seperti siswa lainnya. Pengalaman dalam bidang pendidikan jasmani yang sifatnya positif cenderung meningkatkan peluang-peluang untuk ikut serta dalam setiap kejadian dan hal ini akan meningkatkan pertumbuhan domain afektif siswa. 

Sumber:
Tarigan,Beltasar. Pendidikan Jasmani Adaptif . 2002. Bandung: FPOK UPI Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar