Jumat, 29 Juli 2011

Landasan Bimbingan dan Konseling

  1. LANDASAN HISTORIS
Di lihat dari sisi historis landasan yang di jadikan patokan dapat di bagi ke dalam beberapa fase:
  1. Munculnya Trade in Lunacy
Walaupun konseling dan psikoterapi baru tersedia secara luas pada paruh kedua abad 20, akan tetapi akarnya dapat kita lihat dari awal abad 18, merepresentasikan titik balik cara masyarakat merespon kebutuhan orang-orang yang memiliki masalah dalam hidup mereka. Pada masa sebelum ini, masalah ditangani dalam prespektif agama yang di emplementasikan pada tingkat komunitas lokal. Di Eropa, mayoritas orang hidup di pedesaan yang kecil dan dipekerjakan di tanah tuan tanah. Dalam cara hidup ini kegilaan atau mereka yang sangat terganggu di toleransi sebagai bagian dari komunitas. Masalah interperonal atau emosional pada level yang lebih rendah ditangani oleh pendeta lokal dengan pengakuan dosa, atau biasa di sebut sebagai ”obat bagi jiwa”.

  1. Revolusi Industri
Merebaknya revolusi industri mengakibatkan kapitalisme mulai mendominasi ekonomi dan kehidupan politik, serta nilai-nilai sains mulai menggantikan nilai-nilai agama. Perubahan dasar dalam struktur sosial dan kehidupan sosial serta ekonomi yang terjadi pada masa itu di ikuti oleh perubahan mendasar dalam hubungan antar manusia dan cara orang mendefinisikan serta menghadapi tuntutan emosional dan psikologis. Komunitas yang tidak dapat mengikuti tuntutan jaman dimasukkan ke dalam rumah penampungan (workhouse). Namun kegilaan yang semakin membuat onar tatanan masyarakat ini memerlukan tempat penampungan yang disebut asylum. Keadaan yang terjadi pada masa ini mendapat perhatian lebih dari para praktisi medis. Akhirnya lahirlah istilah psikiatri, sebuah profesi baru untuk melayani sait mental atau kegilaan.
Ketika kita melihat kelahiran psikiatri dan membandingkan dengan apa yang terjadi pada awal masa abad 19, maka kita akan melihat:
    • Masalah emosional dan tingkah lakudalm hidup digolongkan dalam masalah medis.
    • Terdapat ”trade in lunacy”, sebuah keterlibatan kekuatan pasar dalam pengembangan pelayanan tersebut.
    • Terdapat peningkatan jumlah penolakan terhadap kebrutalan dalam cara menangani kegilaan dan juga lebih banyak kontrol sosial dalam penanganan tersebut.
    • Pelayanan yang ada pada waktu itu dikontrol oleh pria untukmelecehkan wanita.
    • Sains menggantikan agama sebagai kerangka kerja untuk memahami kegilaan.

  1. Penemuan Psikoterapi
Pada akhir abad ke 19, psikiatri telah menempati posisi dominan dalam penanganan kegilaan yang pada saat itu di kenal dengan ’sakit mental’. Kini, dari dalam dunia pengobatan dan psikiatri, muncul psikoterapi sebagai spesialisasi baru. Munculnya Psikoterapi berasal dari penemuan hipnosis oleh Johann Joseph Gassner dan Franz Mesmer. Sedangkan figur kunci tranformasi hipnosis menjadi psikoterapi adalah Sigmund Freud, karena kemampuanya dalam mengasimilasi semua ide ke dalam sebuah model teori koheren yang bernilai di semua bidang. Namun, dia lebih memilih melanjutkan untuk mengembangkan psikoanalisis, yaitu pemikiran psikologi, medis, filosofis dalam sebuah sistem psikoerapi lengkap pertama.

  1. Pertumbuhan Psikoterapi di Amerika
Psikoanalisis terus menjadi aktifitas pinggiran sampai kemudian di adopsi dengan antusias oleh Amerika.Freud sebagai tokoh kunci dalam penyebarkan psikoanalisis tidak bisa begitu saja menerapkan pemikirannya dikarenakan perbedaan kultural. Namun, kemudian munculah penulis yang mengintrepetasikan pemikiran Freud ke dalam kultur mereka. Salah satunya ialah Carl Rogers dengan Teori client-centered ( berpusat pada klien ). Perkembangan dan popularitas konseling terus menanjak di Amerika di sebabkan oleh mobilitas sosial dan komsumerisme tingkat tinggi yang menghasilkan defisiensi makna atau empty self. Konseling adalah aktifitas yang mustahil di pisahkan dari kultur masyarakat barat dan karena itu tidak harus relevan dengan permasalahan yang di alami oleh anggota kultur lainnya.
Pada waktu yang sama para ahli lainnya juga mengembangkan program bimbingan ini, seperti berikut.
  • EliWeaper, pada tahun 1906 menerbitkan booklet tentang ”Memilih Suatu Karir.” Dia telah berhasil membentuk Komite guru pembimbing di setiap Sekolah menengah di New York. Komite-komite ini aktif bekerja untuk membantu para pemuda (remaja) dalam menemukan kemampuan-kemampuannya dan belajar tentang bagaimana menggunakan atau mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka menjadi seorang pekerja atau pegawai produktif.
  • Frank Parson, yang dikenal sebagai “father of the guidance movement in American education” mendirikan Biro Pekerjaan (Vacational Bureau) pada tahun 1908 di Boston, Massachussets, yang tujuannya adalah membantu para pemuda untuk memilih karir yang didasarkan atas proses seleksi secara ilmiah dan melatih para guru untuk memberikan pelayanan sebagai konselor vokasional.
  • E.G. Williamson, pada akhir tahun 1930 dan awal tahun 1940 menulis buku How to Counsel Student s: A manual of techniques for Clinical Counselors. Model bimbingan sekolah yang dikembangkan oleh Williamson terkenal dengan nama trait and factor (directive) guidance. Dalam model ini, para konselor meggunakan informasi untuk membantu siswa dalam memecahkan masalahnya, khususnya dalam bidang pekerjaan dan penyesuaian interpersonal. Peranan konselor bersifat direktif dengan menekankan kepada (a) mengajar ketrampilan, dan (b) membentuk (mengubah) sikap dan tingkah laku.
  • Bradley (John J. Pietrofesa et.al., 1980) menambah satu tahapan dari tiga tahapan tentang sejarah bimbingan menurut Stiller, yaitu sebagai berikut.
    1. Vacational Exploration, yaitu tahapan yang menekankan tentang analisis individual dan pasaran kerja. Tahapan yang mencoba menjodohkan manusia dengan pekerjaan.
    2. meeting Individual Needs, yaitu tahapan pada periode 40 s.d. 50-an yang menekankan kepada upaya membantu individu agar memperoleh kepuasan kebutuhan hidupnya. Perkembabgan bimbingan dan konseling pada tahapan ini dipengaruhi oleh pendapat Maslow dan Rogers, yaitu bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalahnya sendiri.
    3. Transisional profesionalism, yaitu tahapan yang memfokuskan perhatiannya kepada upaya profesionalisasi konselor.
    4. Situasional diagnosis, yaitu tahapan yang terjadi pada tahun 1970-an, sebagai periode perubahan dan inovasi. Pada tahapan ini, ada penekanan yang lebih kepada analisis lingkungan dalam proses bimbingan, dan gerakan untuk menjauhi cara-cara terapautik yang hanya terpusat kepada diri individu.

  1. Perkembangn Layanan Bimbingan di Indonesia
Perkebangan layanan bimbingan di indonesia berbeda dengandi Amerika. Perkembangan layanan bimbingan di Amerika dimulai dari usaha perorangan dan pihak swasta, kemudian berangsur-angsur menjadi usaha pemerintah. Sementara di indonesia, perkembangannya dimulai dengan kegiatan di sekolah dan usaha-usaha pemerintah.
Layanan bimbingan dan konseling di Indonesia telah mulai dibicarakan secra terbuka sejak tahun 1962. hal ini ditandai dengan adanya perubahan sistem pendidikan di SMA, yaitu terjadinya perubahan nama menjadi SMA Gaya Baru, dan berubahnya waktu penjurusan, yang awalnya di kelas I menjadi kelas II,. Program penjurusan ini merupakan respon akan kebutuhan untuk menyalurkan para siswa ke jurusan yang tepat bagi dirinyasecara perorangan.
Perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia menjadi semakin mantap dengan terjadinya perubahan nama organisasi ikatan petugas bimbingan Indonesia (IPBI) menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) pada tahun 2001. Pemunculan nama ini dilandasi terutama oleh pemikiran bahwa bimbingan dan konseling harus tampil sebagai profesi yang mendapatkan pengakuan dan kepercayaan publik.
Berdasarkan penelaah yang cukup kritis terhadap perjalanan historis gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia, Prayitno (2003) mengemukakan bahwa periodesasi perkembangan gerakan bimbingan dan penyuluhan di Indonesia melalui lima periode, yaitu: periode prawacana, pengenalan , pemasyarakatan, konsolidasi, dan tinggal landas.

  1. LANDASAN FILOSOFIS
Mempelajari filsafat tidak hanya sebatas memikirkan sesuatu sbagai perwujudan dari hasrat atau keinginan untuk mengetahui sesuatu (curiosity), melainkan memang filsafat mempunyai fugsi dalam kehidupan manusia, yaitu bahwa (1) setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan, (2) keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri, (3) dengan bersifilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik, dan (4) untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu berubah. Dengan berfilsafat seseorang akan memperoleh wawasan atau cakrawala pemikiran yang luas sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat. Keputusan tersebut mempunyai konsekuensi tertentu yang harus dihadapi secara penuh tanggung jawab. Menghadapi resiko sebagai rasa tanggung jawab bukan berdasar suatu paksaan, melainkan lahir dari kesadaran akan nilai kemanusiaan yang melekat pada dirinya, yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab akan perbuatan atu tindakannya sendiri. Orang yang mencintai hikmah atau berpikir yang bijaksana (orang yang berfilsafat) dalam mengambil suatu keputusan akan senantiasa didasarkan kepada pertombangan yang matang untuk menemukan sesuatu yang dipandang baik atau bermakna diri sendiri atau orang lain.
Oleh karena itu, keputusan yang diambilnya akan terhindar dari kemungkinan konflik dengan pihak lain, bahan sebaliknya dapat mendatangkan kenyamanan atau kesejahteraan hidup bersama, walaupun berada dalam iklim kehidupan yang serba kompleks.
Sedikitnya ada 4 kelompok filosofi utama yang karyanya terbukti masih relevan, yaitu:
  1. Filsafat YUNANI KUNO
Pemikiran filsafat aliran kuno ini seperti Aristoteles, Socrates, dan Plato dapat di anggap sebagai fondasi intelektual masyarakat barat. Filsaft ini di gunakan dan di hormati alam kehidupan Yunani kuno. Isu dan perdebatan yang mereka gunakan masih relevan hingga saat ini.

  1. Filosof Pencerahan
Sekitar abad ke-17 dan 18, Eropa sedang berada dalam proses berpindah dari sistem tradisional yang di dasarkan agama, feodalisme, dan ekonomi agrikultural ke era modenisasi yang di tandai kota, demokrasi, dan nilai ilmiah. Figur kunci adalah Decrates, Locke, Hume, Kant. Perhatian utama pasa filsuf ini adalah mengeksplorasi kemungkinan untuk mendapatkan pengetahuan dan bertindak sesuai moral dalam dunia yang tidak lagi dikuasai oleh kekakuan agama dan prasangka tradisional.

  1. Kritik Modernitas
Pada abad 20, posisi rasionalitasilmiah tengah kokoh sehingga sebagian filosof tertarik untuk menganalisa batasan dan kontradiksi cara hidup dan berpikir moern. Wittgennstein berpendapat bahwa realitas manusia di bangun melalui bentuk kehidupan kita, dan Heidegger berusaha mengungkap makna dimensi ”ada” dan eksistensi yang berada di belakang setiap aktifitas sehari-hari, adalah yang paling berpengaruh dalam cabang filsafat kontemporer ini. Diantara penulis yang mempertanyakan hal serupa ialah Taylor, Macmuraay, mc Intyre, dan Rorty. Subgrup paling penting dalam gerakan ini adalah eksistensialis.

  1. Tradisi filsafat non-barat
Tradisi filsafat ini sangat berpengaruh dalam perkembangan konseling dan psikoterapi barat adalah Buddisme. Tetapi, ada pula usaha untuk mengaplikasikan ide terapi yang bersumber pada Vedantik, Sufi, dan sistem filsafat lainnya.
Sedangkan di Indonesia yang menjadi landasan filosofis bimbingan dan konseling adalah Pancasila, yang nilai-nilai luhurnya sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri sebagai makhluk Tuhan yang bermartabat. Sehubungan dengan itu, program BK harus merujuk pada nilai-nilai yang trkandung di dalam kelima sila Pancasila tersebut.



Berikut implikasi dari Pancasila sebagai landasan:
  • Tujuan bimbingan dan konseling haruslah selaras dengan nilai-nilai Pancasila yang terkandung di setiap silanya. Dengan demikian diharapkan tujuan BK ialah memfasilitasi pesera didik agar mampu mengembangakan potensi, jati dirinya sebagai makhluk Tuhan, mengembangkan sikap-sikap positif dan koopeatif dan mengembangkan kesadaran untuk membangun bangsa Indonesia yang bsejahtera dan berkeadilan dalm berbagao aspek kehidupan
  • Koselor seyogyanya menampilkan kualitas pribadi yang sesuai dngn nilai-nilai Pancasila, yaitu beriman dan bertakwa, bersikap peduli terhadaporang lain, mau bekerja sama dan bersikap demokratis
  • Perlu melakukan penataan lingkungan yang nantinya dapat mendukung terwujudnya nilai-nilai Pancasila dalam setiap lini kehidupan.

    1. LANDASAN SOSIAL BUDAYA
Kebutuhan akan bimbigan timbul karena adanya masalah-masalah yang di hadapi oleh individu yang terlibat dalam kehidupan masyarakat. Semakin rumit struktur masyarakat dan keadaanya, semakin banyak dan rumitlah masalah yang dihadapi oleh individu yang berada dalam masyarakat trsebut. Jadi kebutuhan bimbingan itu timbul karena terdapat faktor yag menambah rumitnya keadaan masyarakat dimana individu tersebut hidup. Faktor-faktor itu diantaranya adalah:
      • Perubahan Konstelansi Keluarga
Pada tahun 1970 di Amerika mengalami perubahan yang cukup berarti yaitu melemahnya otoritas seorang pria / suami, merebaknya tuntutan kesamaan hak oleh perempuan dan mulai meretaknya hubugan antar anggota keluarga. Masalah tersebut di ikuti oleh semakin meningkatnya angka perceraian dan kecenderungan pola hidup single parent. Juga meningkatnya pelecehan seksual, penggunaan obat-obat terlarang. Kesemuanya ini mengakibatkan timbulnya peningkatan keinginan bunuh diri, free sex dan KDRT.
Jika menilik lebih dalam hal serupa juga tengah terjadi di Indonesia di awal abad 21 ini. Pesatnya arus globalisasi telah banyak mempengaruhi kehidupan dan pola hubungan dengan anggota keluarga sehingga timbul kecenderungan mengecilkan keutuhan keluarga.



      • Pekembangan Pendidikan
Demokrasi dalam bidang kenegaraan menyebabkan demokratisasi dalam bidang kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Hal ini berarti bahwa semua orang dapat mengikuti persekolahan sesuai pilihanya. Kesempatan yag terbuka ini akan menimbulakan berkumpulnya murid-murid dari berbagai latarbelakang yang berbeda-beda. Masalah akan timbul jika kita tidak mampu beradaptasi dengan baik. Tidak sedikit konflik yang akan terjadi yang nantinya menyebabkan perpecahan sebagai akibat dari pelaksanaan falsafah demokrasi dan perkembangan teknologi, sehingga program pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Program pendidikan tampak dalam tiga arah, yaitu meninggi, meluas dan mendalam. Arah meninggi tampak dalam bertambahnya kesempatan dan kemungkinan bagi muid untuk mencapai tingkat pendidikanyang lebih tinggi. Sehingga menimbulkan kebutuhan bimbingan dalam menentukan dan memilih melanjutkan ke arah yang paling tepat, serta menilai kemampuan murid secara tepat.
Arah meluas tampak pada pembagian sekolah berbagai jurusankhusus dan sekolah kejuruan. Hal ii juga membutuhkan layanan bimbingan untuk menentukan pilihan jurusan yang tepat basi peserta didik.
Arah mendalam tampak pada berkembangnya lingkup dan keragaman disertai pertumbuhan tingkat kerumitan dalam tiap bidang studi. Masalah yang timbul dalam mendalami bidang studi tertentu berakibat peserta didik membutuhkan perhatian yang bersifat individual dan khususdari seorang konselor.

      • Dunia kerja
Berbagai perubahan yang terjadi di dunia kerja mengakibatkan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja. Tuntutan keahlian khusus lebih diutamakan dari para pekerja. Untuk itu perlu kesiapan lebih dalam meningkatkan keahlian, keterampilan, dan kesiapan mental untuk terjun ke dunia kerja bimbingan dan konseling di butuhkan untuk membantu menyiapkan mental para calon pekerja.

      • Perkembangan komunikasi dan teknologi
Dampak dari berbagai sarana komunikasi telah dapat kita rasakan lebih akhir-akhir ini, sebut saja meningkatnya kasus pelecehan seksual, kekerasan yang sering terjadi tidak hanya dalam masyarakat tetapi juga merembet ke dunia pelajar dan ibu rumah tangga dalam menyelesaikan pemasalahan hidup, dunia mistik yang makin mendapat sorotan dari publik.
Disini tentu peran seorang konseling sangat di butuhkan untuk meminimalisir dampak dari tayangan televisi ataupun internet yang sangat di gandrungi oleh para generasi muda. Selain itu juga untuk memfasilitasi berkembangnya kemampuan dalam memutuskan sesuatu yang tengah dihadapi peserta didik.

      • Kondisi moral dan keagamaan
Kebebasan dalam memeluk agama di Indonesia menyebabkan individu berpikir dan mulai mampu menilai kebenaran agama yang dianutnya. Hal semacam ini kadang akan menyebabkan keraguan akan kepercayaan yang telah diwarisi dari orang tua mereka.
Makin banyak ragam penilaian yang dilakukan oleh seseorang maka akan semakin banyak pula konflik yang terjadi di dalam pribadinya. Maka bimbingan di rasakan penting untuk memberikan beberapa pandangan yang tepat agar konflik yang terjadi tidak mempengaruhi proses perkembangannya.

    1. LANDASAN PSIKOLOGIS
Dilingkungan pendidikan yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konsling adalah peserta didik. Peserta didik meruakan pribadi-pribadi yang sedang berada dalam proses berkembang menuju kematangan. Masing-masing peserta didik memiliki karakteristik yang eragam dan unik. Dalam ati terdapat perbedaan individual diantra mereka ,seperti menyangkut kecerdasan, emosi, sosiabilitas, sikap, kebiasaan, dan kemampuan penyesuaian diri.
Proses perkembangan tidak selalu berlangsung secara linear atau selalu sesuai dengan harapan dan norma yang dijunjung tinggi, lebih bersifat fluktuatif dan bahkan bisa terjadi stagnasi atau diskontinuotas perkembangan. Dalam proses pendidikan perta didik pun tidak jarang mengalami stagnasi perkembangan, sehingga menimbulkan masalah-masalah psikologis, seperti terwujud dalam perilaku menyimpang (delinquency) atau bersifat kekanak-kanakan (infantilitas). Berikut aspek psiologis dan faktor yang mempengaruhi:
  1. MOTIF
Aspek yang penting di ketahui adalah motif, karena keberadaannya sangat berpengaruh dan berperan dalam pembentukkan tingkah laku individu. Pada dasarnya tidak aa perilaku tanpa motif di dalamnya, artinya setiap tingkah laku individu itu bermotif. Menurut J. P. Chaplin, motif adalah ” a state of tension within the in which arouses, maintains and direct behaviour toward a goal.”
Artinya ialah satu kekuatan dalam individu yang melahirkan, memelihara dan mengarahkanperilaku kepada suatu tujuan.
Motif biasa dikelompokkan menjadi lima pengelompokkan, yakni:
      • Motif primer dan motif sekunder
Motif primer adalah motif dasar atau biologis yang tidak di pelajari terlebid dahulu. Contohnya dorongan fisiologis seperti makan, minum, bernafas, beristirahat, mengembangkan keturunan, bergerak dan motif darurat seperti rasa takut, ingin tahu, melarikan diri, menyerang an mengejar.
Motif sekunder adalah motif yang di pelajari. Contohnya ialah belajar ilmu pengetahuan, mengejar suatu kedudukan, ingin diterima, dan di hargai.
      • Motif menurut Woodwort dan Marquis
Motif organis: makan, minum, seksual, beristirahat, dan bergerak
Motif darurat: membalas, berburu, mengejar.
Motif objektif : motif untuk melakukan ekplorasi atau menyelidik yang bertjuan memperoleh suatu kebenaran yang objektif, motif manipulasi dan motif interest.
      • Motif berdasarkan jalaranya
Motif intrinsik yaitu motif yang tidak memerlukan rangsangan dari luar karena dalam diri individu sendiri telah ada dorongan itu. Seperti seseorang yag beribadah karena takut akan siksa Tuhan atau rajin belajar karena ingin pintar
Motif ekstrinsik yaitu motif yang memerlukan rangsangan dari luar untuk mengaktifkan keinginannya. Contoh karena ingin mendapat ilai bagus maka seorang siswa akan tekun belajar dan rajin sekolah.

  1. KONFLIK DAN FRUSTASI
    • Konflik
Adalah suatu pertentangan, suatu kebimbangan, suatu keragu-raguan dalam menetapkan motif pilihan.konflik dapat dibedakan menjadi empat kelompok besar, yakni:
Konflik mendekat-mendekat, yaitu kondisi psikis yang di alami karena menghadapi dua motif positif yang sama kuat. Seperti seorang mahasiswa yang harus memilih antara mengikuti ujian atau menyelesaikan pekerjaan kantor. Konflik menjauh-menjauh, yaitu kondisi psikis yang terjadi karena menghadapi dua motif negatif yang sama kuat. Seperti saat seorang terdakwa harus memilih antara huuman penjara atau denda uang yang jumlahnya tidak mungkin terjangkau.
Konflik mendekat menjauh, yaitu kondisi karena menghadapi situasi yang mengandung positif dan negatidf yang sama kuat. Contoh seorang siswa uang di hadapkan pada pilihan apakah harus berjilbab untuk menjalankan agama dengan benar atau dikeluarkan dari sekolah karena pilihanya berjilbab.
Konflik ganda, yaitu jika individu menghadapi dua situasi atau lebih yang masing-masingmengandung motif positif dan negatif sekaligus dan sama kuat.

  • Frustasi
Adalah rasa kecewa yang mendalam karena tujuan yang hendak di capai mengalami kegagalan atau tak kunjung terlaksana. Sarlito Sarwono mengelompokkan frustasi menjadi tiga golongsn sebagai berikut:
Frustasi lingkungan yaitu frustasi yag disebabkan oleh rintangan yang terdapat dalam lingkugan. Misalnya seseorang yang merencanakan menikah tetapi calonmempelainya meninggal karena kecelakaan
Frustasi pribadi yaitu rasa kecewa yang timbul sebagai akibat ketidak mampuan dalam mencapai tujuan. Atau dengan kata lain frutasi timbul karena perbedaan antara keinginan dengan kemampuan yang dimiiki.
Frustasi konflik yakni frustasi yang disebabkan oleh konflik yang ada dalam diri seseoarang.dengan adanya motif yang saling bertentangan maka pemuasan diri dari salah satunya akan mengakibatkan frustasibagi yang lain.

  1. SIKAP
Menurut Howard Kendler sikap adalah merupakan kecenderungan umtuk mendekati atau menjauhi atau melakukan sesuatu, baik positif maupun negatif terhadap suatu lembaga, peristiwa, gagasan ataupun konsep. Menurut saya, sikap adalah gerakan, perkataan yang kita tunjukkan kepada lawan bicara kita atau situasi yang kita hadapi baik negatif atupun positif.
  • Tiga unsur atau komponen sikap:
Unsur kognisi (cognition) yang terdiri atas keyalinn atau pemahman indivdu terhadap objek-objek tertentu. Misal sikap kita terhadap minuman keras atau judi, karena kita paham bahwa kegiatan itu haram hukumnya.
Unsur afeksi yaitu menunjukkan perasaan yang menyertai sikap individu terhadap objek. Unsur ini bisa bersifat positif atau negatif. Sebagai orang Islam kita akan menolaknya karena kita tahu menyenangi judi dan minunan keras itu haram.
Unsur kecenderungan (action tendency) keseluruhan kesediaan individu untuk bertindak dan bereaksi terhadap objek tertentu. Misal seorang muslim yang menyakini bahwa judi dan minuman keras itu haram hukumnya maka ia akan menjauh bahkan membencinya serta berusaha menghilanhkanya dari masyarakat sekitarnya.
  • Faktor Pembentuk sikap menurut Sartain dkk sebagai berikut:
Faktor pengalaman khusus yaitu terbentuk karena pernah mengalami pengalaman khusus. Misalnya mahasiswa yang mendapat perlakuan baik dari dosennya, baik di dlam atau di luar kelas maka mahasiswa akan bersikap positif terhadap dosen tersebut.
Faktor komunikasi dengan orang lain, banyak sikap individu yang ternentuk karena adanya komunikasi dengan orang lain. Baik secar langsung ataupun tidak langsung, melalui media massa, film, koran dan majalah.
Faktor model, sikap yang terbentuk melalui meniru suatu tingkah laku yang memadai model dirinya, seperti perilaku orang tua, guru, pemimpin atau bintang film. Misal seorang anak suka membaca koran sambil minum kopi karena ayahnya suka melakukan hal yang sama.
Faktor lembaga-lembaga sosial, karena lembaga-lembaga yang ada ikut andil dalam mempengaruhi pembentukan sikap seseorang.

  1. MASALAH PERKEMBANGAN INDIVIDU
Sejak individu lahir hingga mencapai dewasa pasti mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Proses perkembangan di pengaruhi oleh hereditas dan lingkungan. Pendidikan sebagai bagian dari lingkungan cukup berpengaruh terhadap proses perkembangan individu itu sendiri karena pendidikan bertanggung jawab dalam pencapaian tugas-tugas perkembangan seoptimal mungkin bagi setiap individu. Bimbingan dan konseling sekolah merupakan komponen penting dalam membantu proses tersebut.

  1. MASALAH PERBEDAAN INDIVIDU
Masing-masing individu merupakan individu yang unik karena memiliki kekhasan sendiri. Hal ini dapat terjadi sebagai hasil faktor keturunan atau hereditas. Contoh pebedaan tersebut ialah : kecerdasan, kecakapan, sikap, cita-cita, secara fisik, kepribadian dan lainnya. Dibutuhkan bantuan dari BK agar peserta didik tahu dan mengerti bahwa mereka berbeda satu sama lain.

  1. MASALAH KEBUTUHAN INDIVIDU
Kebutuhan adalah dasar timbulnya tingkah laku atau karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan maka individu bertingkah laku. Umumnya terdapat dua kebutuhan yang harus dipenuhi oleh individu yaitu kebutuhn biologis dan kebutuhan psikologis, seperti kasih sayang, ingin dikenal dan di butuhkan, rasa aman, memperoleh kemerdekaan atau kebebasan.

  1. MASALAH PENYESUAIAN DIRI DAN KELAINAN TINGKAH LAKU
Dalam memenuhi kebutuhan maka individu akan berperilaku wajar atau tak wajar, dengan cara-cara yang di sadari atau tidak. Yang terpenting ialah pemenuhan kebutuhan sehingga individu harus menyesuaikan kebutuhan dengan lingkungan, biasa kita sebut penyesuaian diri. Jika terjadi kegagalan maka akan menimbulkan ketidak sesuaian atau salah suai. Bentuknya bisa berupa bandel, nakal, suka membolos, rasa rendaj diri, frutasi sehingga mengganggu lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu BK di butuhkan untuk menanggulangi dan mencegah timbulnya salah suai di kalangan peserta didik.

Sumber :
Budi, Djoko, Santoso. 2008. Dasar-dasar Bimbingan an Konseling di sekolah. (in press)
Yusuf, LN., S. & Nurihsan, A. J. 2008. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung; PT. Remaja Rosdakarya




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar